Mahakarya Dari Surga
Sudah sekian lama saya tidak pernah merasakan lagi yang namanya jatuh cinta. Entah karena saya trauma dengan yang namanya cinta, atau mungkin karena saya terlalu terlena dengan kehidupan saya sendiri.
Jatuh cinta terakhir kalinya saya rasakan terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Rasa cinta terhebat yang bisa saya persembahkan, disia-siakan hanya karena masalah kecil. Semenjak itulah, ada ketidak percayaan pada janji dan perasaan dari wanita. Semudah itukah melecehkan sebuah ikatan?
Waktu terus bergulir, dan saya mulai menikmati kehidupan saya sendiri. Kehidupan yang jauh dari kelembutan seorang wanita, namun itu tidak sedikitpun mengganggu pikiran dan aktifitas saya. Saya terlalu larut dalam mencari rupiah.
Pun karena lingkungan saya yang membuat saya nyaris tidak pernah merasakan kesepian. Yach … Meskipun terkadang rasa sepi itu datang menyapa dan memeluk erat pikiran saya, tetapi itu dengan mudah sirna dari otak saya. Teman-teman hebat saya yang kebanyakan dari kaum hawa telah membuat rasa sepi itu mudah hilang tanpa bekas.
Alasan-alasan diatas lah yang sangat berperan menimbulkan perasaan jumawa di hati saya. Kepingin beli apa, bisa dengan mudah saya penuhi. Kepingin jalan, bisa dengan mudah mencari teman jalan. Masihkah saya perlu cinta dari seseorang?
***
2 tahun berlalu. 2 tahun sudah saya merasa bahagia (atau pura-pura bahagia) dengan kehidupan saya.
Tapi hingga pada suatu momentum dimana saya mengenal seorang wanita. Seorang wanita yang mempunyai nilai lebih dibanding wanita-wanita lain yang saya kenal. Kalau bicara paras, dia memang cantik. Tapi bukan cuman itu yang saya perlukan. Diluar sana masih banyak yang cantik bahkan jauh lebih cantik. Dia juga baik, tapi bukan cuman baik saja yang saya minta. Karena saya yakin, banyak sekali orang baik.
Tapi wanita yang satu ini lain. Dia mempunyai satu sifat yang hampir tidak pernah bisa dengan mudah saya temukan dari makhluk yang dinamakan wanita. Saat saya melakukan sebuah kesalahan, dia tidak serta merta menghakimi saya, menyalahkan saya atau bahkan memusuhi saya. Dia selalu bertanya, kenapa saya begini, kenapa saya begitu?
Dia selalu mencari tahu penyebab kenapa saya berbuat sesuatu yang di mata dia salah. Dia lebih suka mencari solusi, bukan sekedar mem-vonis kesalahan saya. Tidak seperti yang lain, yang hanya bisa menyalahkan dan memusuhi saya, seolah-olah merekalah makhluk paling suci di bumi ini.
Ya … Cantik, baik dan bisa memahami banyak hal tentang saya adalah kombinasi yang sangat sempurna di mata saya.
Kehadirannya dalam episode kehidupan saya, telah menyadarkan saya bahwa sehebat apapun saya, saya tetap perlu belaian lembut dan pelukan mesra dari seorang wanita. Tanpa wanita, kebahagiaan saya hanyalah pura-pura belaka. Tanpa wanita, kehidupan saya hanyalah sandiwara.
Dia … Wanita itu adalah sebuah Mahakarya Dari Surga, dan (sekali lagi) saya …. jatuh cinta.
Edisi HUT RI: Merdeka kah Kita?
Setiap tanggal 17 Agustus, sang saka Merah Putih menghiasi langit Indonesia dengan gagahnya. 17 Agustus, satu hari yang dikenal dan dikenang sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia dari penjajahan kolonialisme dan feodalisme.
17 Agustus 1945, hari dimana 2 pemimpin bangsa Indonesia memproklamirkan sebuah kemerdekaan yang merupaka sebuah tonggak awal cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk bangkit dari penindasan dan merupakan langkah awal untuk dapat menentukan nasib dirinya sendiri.
Ya … Jika merujuk pada kemerdekaan atas sebuah penjajahan itu memang benar. Tetapi apakah makna kemerdekaan hanya sebatas itu? Apakah saat ini kita bisa dibilang MERDEKA dalam arti sesungguhnya? Merdeka dalam segala sisi kehidupan?
Mari merenung sejenak.
Ketika mafia menguasai sendi-sendi kehidupan kita, sebut saja mafia pajak, mafia hukum, mafia proyek dan mafia-mafia lainnya, apakah bisa dibilang bahwa kita merdeka? Apakah benar adanya jikalau dikatakan bahwa kita telah terbebas dari belenggu penjajahan?
Kemerdekaan negeri ini hanya berlaku untuk orang-orang dan golongan tertentu. Sementara sebagian golongan yang lain, yang tentu saja golongan rakyat bawah, masih tertatih-tatih untuk dapat memahami dan merasakan kemerdekaan itu sendiri.
Urusan sekolah dan kesehatan, adalah 2 contoh kecil yang sampai saat ini membelenggu mereka. Bahkan sempat ada pledoi yang mengatakan bahwa “orang miskin dilarang pintar”. Ya … Gimana mau pintar jika biaya sekolah jauh diatas angan-angan mereka. Belum lagi keberadaan mereka di mata hukum, sosial, ekonomi dan politik yang nyaris selalu terabaikan.
Apakah mereka hanya boleh merasakan kemerdekaan hanya dengan memasang bendera merah putih, ikut lomba balap karung atau panjat pinang saja? Apakah kemerdekaan bagi mereka hanya tersedia 1 hari dalam 1 tahun? Apakah … Apakah … Dan apakah arti kemerdekaan bagi masyarakat kelas bawah?
Dirgahayu Republik Indonesia!!!
*coretan lainnya ada di http://nusantara-widyandaru.com
Nazaruddin … Bukan Nyasaruddin
Nazaruddin, buron pemerintah RI yang juga masuk ke dalam daftar Red Notice Interpol akhirnya mengakhiri “perjalanan wisatanya” di negaran nan jauh disana, Columbia.
Kedatangan tersangka kasus korupsi wisma atlet dan diduga terlibat dalam kasus mafia proyek di beberapa lembaga kementerian tersebut sangat mengundang perhatian.
Di satu sisi, Nazaruddin bak selebritis yang kedatangannya yang menggunakan pesawat jet carter-an telah ditunggu banyak orang dengan pengawalan super ketat dari pihak keamanan.
Di sisi lain, Nazaruddin juga layaknya seorang tersangka teroris. Pengawalan yang super ketat dengan hampir semua pengawalnya menggunaka topeng hitam sebagai penyamaran. Plus, Nazaruddin pun mengenakan rompi anti peluru di dadanya.
Jadi sebenarnya apa status Nazaruddin? Teroris, Koruptor, Selebritis atau bahkan tamu negara? *Uupsss*
Terlepas dari hiruk pikuk dan kejanggalan dalam proses pemulangan Nazaruddin, tentunya kita berharap bahwa kasus tersebut bisa dituntaskan dengan cepat dan tepat. Tidak lagi menambah daftar kasus yang tidak jelas ujungnya. Sebut saja kasus Antasari Azhar, Susno Duadji dan sang fenomenal Gayus Tambunan, adalah 3 contoh dari beberapa kasus yang masih ngambang.
Entah kenapa, mungkin berkas-berkas perkara mereka nyasar ke suatu tempat. Atau mungkin para petugas yang berwenangnya yang nyasar? Wallahualam …
Ya mudah-mudahan, edisi Nazaruddin kali ini tidak berubah menjadi edisi Nyasaruddin.
* Coretan yang lain ada di http://nusantara-widyandaru.com
Mengejar Santunan Beresiko
Sekali lagi, kericuhan terjadi pada saat pembagian santunan kepada fakir miskin. Hari ini saja, sudah ada 2 berita di TV yang melaporkan kejadian yang sama di 2 tempat berbeda. Orang tua, perempuan dan anak kecil terhimpit di tengah kerumunan massa. Bukan puluhan, tetapi ratusan orang. Bayangkan, betapa besar resiko yang harus mereka ambil demi “sekedar” beberapa lembar uang ribuan
Kejadian seperti itu sudah sering terjadi. Dan sepertinya, masing-masing tidak belajar dari pengalaman. Tahun kemarin, berapa nyawa melayang karena terjepit dan terinjak? Haruskah korban berjatuhan lagi?
Terlepas dari niat baik si pemberi santunan atau sedekah, bukankah sebaiknya juga dipikirkan cara-cara pemberian santunan yang lebih baik lagi? Sehingga niat baik itu tidak “tercemar” dengan timbulnya korban.
Pemberian santunan atau sedekah, mungkin bisa dilakukan dengan cara “menjemput bola”, misalnya dengan membagi per-RT atau per-RW atau ke tempat-tempat konsentrasi orang-orang yang masuk dalam golongan yang berhak menerima santunan. Sehingga tidak terjadi penumpukan massa di satu titik.
Memang, dengan cara seperti itu diperlukan effort tambahan karena harus menambah personil sebagai kurir santunan. Tetapi sekali lagi, resiko jatuhnya korban bisa sangat diminimalisir.
Sekali lagi, niat yang baik dan tulus akan jauh lebih bermakna jika tidak ada satu “korban” pun karena itu. Bukankah santunan, sedekah atau apapun namanya, bertujuan untuk sedikit meringankan beban hidup kaum dhuafa dan bukan untuk menambah masalah?
Selamat berbagi
*coretan yang lain ada di http://nusantara-widyandaru.com
Kick Andy, Talk Show yang Sarat dengan Inspirasi
Tidak banyak program TV nasional yang saya suka dan tonton. Bukannya tidak cinta produk-produk dalam negeri, tetapi kita sama-sama tahu bahwa acara di TV kita didominasi oleh sinetron dan program-program kejar tayang lainnya yang jauh dari berkualitas. Dan saya masuk di dalam kubu pembenci sinetron *maaf*
Dari segelintir acara yang saya suka, salah satunya adalah program talkshow di Metro TV yang dipandu oleh seorang pembawa acara dengan ciri khasnya “rambut kribo”. Ya …. Apalagi kalau bukan acara KickAndy.
Jika tidak sempat menonton, saya tidak perlu kuatir karena materi yang sama juga disajikan di www.kickandy.com
Kick Andy, sebuah program yang mengupas tentang banyak hal yang sering luput dari liputan Media. Ada suster yang mengabdi di pulau terpencil, Slamet si penyandang cacat dan juga sebagai pembuat kaki palsu, seorang bule yang mengabdikan dirinya untuk kelestarian alam Indonesia, dan banyak sekali Pahlawan-Pahlawan tanpa publikasi di luar sana yang baru saya ketahui keberadaan mereka melalui program talkshow “Kick Andy”. Ya, bagi saya mereka adalah pahlawan di jaman modern. Entah itu sebagai Pahlawan untuk orang-orang di sekitarnya, keluarganya ataupun pahlawan bagi dirinya sendiri.
Banyak cerita inspiratif yang membuat saya jadi trenyuh dan salut kepada mereka, para nara sumber, yang dengan segala keterbatasan (fisik, dana, fasilitas dan lain-lain) masih mau untuk berpikir dan bertindak untuk orang lain.
Mereka memberi banyak pelajaran buat saya, meskipun sampai detik ini belum ada satupun pelajaran yang bisa saya implementasikan. Mereka mengajarkan bagaimana cara hidup untuk kehidupan. Mereka memberikan inspirasi tanpa banyak omong. They are teaching me by example.
Ahhh … Kadang saya kepingin duduk berhadapan dengan Andy F Noya di acara Kick Andy yang dia asuh. Bukan sebagai penonton, tetapi sebagai narasumber di acara tersebut. Bukan pula saya ingin mendapatkan tepuk tangan, tetapi lebih kepada keinginan bahwa saya menjadi inspirator buat orang lain dalam memahami arti hidup dan kehidupan. Hhmmm … Mungkin itu sebuah keinginan yang terlalu muluk, tapi ya siapa tau 
Bravo KicK Andy … Teruslah menampilkan cerita-cerita inspiratif yang bukan sekedar omong kosong.
*coretan saya yang lain bisa Anda temukan di http://www.nusantara-widyandaru.com
Benci Itu Menyiksa
Setahun belakangan ini, ada kebencian yang teramat dalam terhadap seseorang. Seseorang yang awalnya sangat dekat dengan saya, tiba-tiba mulai berubah tanpa saya tahu pasti apa penyebabnya.
Tak ada badai, tak ada hujan … perubahan sikap dia kepada saya mulai saya rasakan. Awalnya saya pikir itu hanya perasaan saya saja. Tetapi hal itu gugur sudah ketika semakin hari, perubahan itu semakin terasa dan semakin menyakitkan.
Dengan berlindung dibalik alasan “nama baik”, jarak itu pun tercipta. Jika memang saya dan dia harus berjauhan untuk alasan itu, tidak masalah. Tetapi masalah menjadi lain ketika dia hanya menjauhi saya, dan tidak dengan yang lain.
FINE!!!! selama saya tahu alasan sebenarnya ….
***
Well, saya tidal akan menulis terlalu detail tentang masalah itu. Saya hanya ingin menceritakan bahwa sebenarnya … di dalam hati kecil saya, yang saya tahu dan saya rasakan adalah … “BENCI itu MENYIKSA”
Kebencian yang saya pendam lebih dari satu tahun lamanya … membuat saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam diri saya. Kebencian itu juga yang telah menutup mata hati saya, dan akhirnya yang ada di otak saya adalah … “apapun yang dia lakukan, salah di mata saya”
Benci itu pula yang membuat saya selalu sulit untuk berkumpul dengan yang lainnya, karena ketika ada dia … saya tidak bisa menikmati kondisi apapun. Seheboh dan seseru apapun acara yang dibuat, saya merasa seperti sedang tidak berada dalam situasi itu. Ya … semua karena ada dia.
Memang ada beberapa orang kawan lain yang ternyata diam-diam mengamati perubahan yang terjadi. Berbagai masukan dan nasehat pun terlontar. Tapi hati saya masih buta … omongan mereka tak satupun yang masuk ke telinga saya. Karena kebencian itulah yang membuat saya “mendadak budeg” dan menghilangkan segala bentuk logika terbaik saya.
***
Desember 2010 … suatu kejadian telah membuat sedikit perubahan. Hampir setiap malam saya selalu terbangu dari tidur setelah mimpi bertemu dia. Tidak ada percakapan apapun disana … yang ada hanyalah sosok dia yang datang menghampiri saya dan tanpa ekspresi apapun. Hampir sebulan lamanya mimpi itu selalu datang. Dan sayapun tersiksa dibuatnya!
Saya pikir awalnya itu hanyalah mimpi … tapi ketika saya mulai gelisah, saya menjadi yakin bahwa semua kebencian ini harus segera diakhiri.
***
30 Desember 2010 … tembok perkasa yang dinamakan ego itu pun perlahan mulai runtuh. Dengan perasaan masih memendam benci, dan sedikit gengsi saya memberanikan diri untuk “mengulurkan tangan dan meminta maaf atas segala yang telah terjadi”
Tapi jujur … sampai saat ini saya juga tidak paham betul, saya minta maaf buat apa ???
Tapi ya sudahlah … jika itu akan menjadi sebuah kebaikan tersendiri, saya tidak akan menyesal melakukannya. Saya tidak lagi peduli siapa yang salah, siapa yang memulai … karena yang saya tahu, sayalah yang harus mengakhiri.
Saya hanya ingin hidup tenang … dikelilingi teman-teman terbaik saya … yang mau menjadikan saya teman dalam kondisi apapun tanpa ada perbedaan, sekecil apapun itu.
Dan satu hal yang saya tahu dan saya percaya … BENCI itu MENYIKSA batin saya.
Coretan lainnya bisa dibaca di http://www.nusantara-widyandaru.com
Kartini Tua
Terus terang saya tidak punya ide lain untuk memberi judul coretan saya kali ini. Kartini Tua, itulah kalimat pertama yang muncul di benak saya yang mungkin masih dipengaruhi oleh suasana perayaan hari Kartini 2 hari yang lalu, dan kebetulan coretan saya kali ini tentang seorang perempuan.

Sosok ibu yang ada di foto ini adalah seorang pengamen yang sudah beberapa kali saya temui di dalam bis kota yang dengan setia mengantar saya pergi pulang dari rumah ke kantor dan sebaliknya(cuman sayang, saya tidak sempat mengambil fotonya pada saat dia beraksi - mengamen: red).
Menurut cerita yang mampir ke telinga saya, beliau menjadi pengamen karena tempat usahanya yang berupa warung digusur oleh petugas trantib (lagi-lagi, yang ditertibkan dan digusur hanya rakyat kecil … #poorPeople). Sah-sah saja jika ada yang berpendapat alasan itu dibuat-buat untuk sekedar menarik empati dan simpati dari orang lain. Toh saya juga tidak bisa memberi jaminan bahwa alasan yang ada adalah benar adanya. Tapi bagi saya, alasan itu tetap “lebih terhormat” dibandingkan dengan pengemis/pengamen yang mengatasnamakan agama.
Well … setiap beliau mengamen dan saya ada dihadapannya, selalu ada titik air di sudut mata saya. Di usianya yang mulai beranjak senja, beliau harus rela naik turun bus kota, menjual suaranya demi menyambung hidup dan kehidupannya. Ohh Tuhan … saya tidak bisa membayangkan seandainya Ibu yang berdiri mengamen itu adalah Ibunda tercinta saya.
.
Sempat ada seseorang yang berceloteh dengan saya, “anaknya dimana ya? kenapa tidak membantu biaya hidup ibunya?”
Saya bilang,”Mungkin tidak punya anak, atau mungkin punya tapi nasibnya tidak lebih baik dari ibunya. Kalau sudah begitu, rumus anak bantu orang tua atau orang tua bantu anak .. sulit untuk berlaku”.
.
Ketika giliran si Ibu pengamen itu mengedarkan kantong duitnya, tidak terlihat orang yang berceloteh tadi memberikan sesuatu. “Hmmmm … orang Indonesia asli, banyak bicara!”, umpat saya dalam hati.
.
***
Ibu Kartini Tua, saat ini saya belum bisa berbuat sesuatu yang lebih nyata untuk membantu meringankan beban hidupmu selain menyisihkan uang receh yang tidak seberapa. Tapi satu hal, doa tulus dari saya semoga engkau selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalani kehidupanmu.
.
Tetap semangat Kartini Tua-ku …
“Bangsat” naik pangkat
Sudah lama saya tidak mendengar ungkapan kekesalan atau kemarahan seseorang dengan kata ‘bangsat’. Yang paling sering diucapkan sekarang biasanya tidak jauh-jauh dari isi kebun binatang.
Tapi beberapa hari terakhir ini, kata ‘bangsat’ kembali populer. Kepopulerannya tak lepas dari peran anggota dewan yang [katanya] terhormat, yang mengucapkannya di tempat terhormat, dalam suasana untuk membuat negeri ini kembali terhormat.
Padahal yang saya tahu, bangsat itu dalam bahasa jawa berarti kutu busuk yang senang ngumpet di kursi dan mengigit orang hingga terasa gatal dan kadang luka. Entah dalam bahasa yang lain, apa artinya bangsat. Tapi saya yakin, bangsat dalam bahasa manapun mempunyai makna yang negatif.
Lha kalau sekarang, bangsat yang berkonotasi negatif dibawa ke sebuah tempat yang (lagi-lagi katanya) rumah rakyat yang seharusnya terhormat … apa itu tidak berarti bahwa si “bangsat” telah naik pangkat ????
“Dendam” Positif
Menyimpan sebuah perasaan dendam memang tidak baik. Bahkan disemua agama apapun diajarkan untuk membuang jauh rasa dendam. Itulah kenapa, judul coretan ini, saya menggunakan tanda quote didalamnya.
Memang ada dendam positif? Well … terserah orang mau bilang apa, tapi bagi saya, dendam positif itu ada. Sebelum berpolemik lebih jauh, ada baiknya membaca coretan saya hingga tuntas
Coretan saya kali ini lebih mengarah ke masa lalu saya, tepatnya ketika masih duduk di bangku SMP.
Untuk mencapai sekolah yang jaraknya kurang lebih 7 km dari rumah, saya selalu menggunakan sepeda butut saya. Selain karena jaraknya tidak terlalu jauh, juga rasanya lebih nyaman karena selalu bersepeda rombongan dengan anak-anak yang lain. Plus juga penghematan, mending ongkos buat angkutan untuk jajan di sekolah
Suatu hari ketika pulang sekolah, suatu kejadian membuat saya menyimpan rasa “dendam” yang teramat dalam. Siang itu rasanya sangat terik, ditambah lagi ban depan sepeda saya bocor. Karena uang di kantong tinggal Rp 50, terpaksa saya harus menjalani ritual jalan kaki dari sekolah ke rumah. Klop banget rasanya ‘penderitaan’ hari itu. No day like that
Setelah beberapa ratus meter berjalan dengan keringat yang bercucuran tiada tara (maklum, jam 1 siang), saya melewati jalan sempit yang kira-kira hanya mampu dilewati 1 mobil plus 1 gerobak bakso. Di tengah jalan, saya berpapasan dengan sebuah mobil yang waktu itu terhitung mobil bagus. Saya akhirnya berhenti dan menepi mepet dengan got. Selain karena capek, juga untuk memberi kesempatan mobil itu melewati saya dengan leluasa.
Weladalah … maksud baik saya ternyata tidak berbalas dengan senyuman. Si empunya mobil membuka kaca, dan melongok keluar. Saya pikir mau mengucapkan terima kasih karena mau mengalah, ternyata apa yang keluar dari mulutnya sangat tidak mencerminkan status sosial dia.
Dengan lantangnya dia berkata,”Ojo cedhak-cedhak, mengko baret mobilku!” (jangan dekat-dekat, nanti mobilku lecet). Whattt???!!!! saya hanya menganga, kaget. Padahal jarak antara sepeda saya dan mobilnya hampir 1 meteran, karena posisi saya mepet dengan got. Saya hanya bisa melihat mobil itu ngeloyor.
Karena kejadian itulah, dendam di hati saya muncul,”Nanti saya akan beli mobil yang jauh lebih bagus darimu!”. Dendam itu tersimpan bertahun-tahun. Rasa sakit hati saya membuat saya sangat ingin menggapai keinginan saya.
Alhamdulillah, beberapa tahun kemudian setelah bekerja, saya mampu mewujudkan ‘dendam’ saya. Memang setelah itu saya tidak bertemu lagi dengan orang tersebut. Tetapi satu pelajaran yang bisa saya ambil adalah, jangan takut untuk bermimpi akan keinginan. Karena terkadang, kenyataan berawal dari sebuah mimpi.
Memang, rejeki setiap orang sudah ditentukan oleh Tuhan, tapi Dia pun tidak akan pernah memberikannya langsung kepada kita tanpa ada usaha dari kita sendiri.
Bukan bermaksud mengajari siapapun kecuali diri saya sendiri, ketika seseorang melecehkan kondisi kita sekarang … ‘dendamlah’ dengan positif. Suatu saat, entah kapan … kondisi itu akan berbalik. Insya Allah.
Gus Dur, Sang Pembela Kaum Marginal & Minoritas
Siapa yang tak kenal Gus Dur? Tokoh nasional yang juga seorang Kiai, Cendikiawan, politikus, Guru Bangsa dan juga kontroversial ini pernah menjabat sebagai Presiden RI yang keempat. Meskipun beliau harus lengser dari kekuasaannya ditengah jalan akibat arus (yang katanya) reformasi, tetapi setidaknya pernah dan telah ada sesuatu yang diberikan buat bangsa ini.
Gus Dur dari dulu memang terkenal sebagai Sang Pembela Kaum Marginal & Minoritas. Terlebih ketika beliau memegang tampuk kekuasaan di negeri ini, sikap pembelaanya terhadap kamu minoritas terasa lebih nyata. Warga keturunan Tionghoa yang sebelumnya tidak pernah bisa menunjukkan identitasnya karena dikekang oleh kebijakan pemerintah, akhirnya bisa ikut andil bagian dalam meramaikan kasanah kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak salah jika disebutkan bahwa warga keturunan Tionghoa dan kaum minoritas lainnya mempunyai “hutang budi” terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh rezim Gus Dur. Kesenian Barongsai dan perayaan Imlek, adalah dua contoh sederhana yang sebelumnya tidak bisa kita nikmati bersama.
Gus Dur, sosok tokoh kontroversial yang pernah mengeluarkan Dekrit Presiden tentang pembubaran DPR dan Partai Golkar ini juga memiliki sifat yang humoris. Terlihat dalam setiap kesempatan wawancara, pasti ada selingan-selingan humor yang membuat kita minimal tersenyum dengan statement beliau. Bahkan acap sekali beliau menyisipkan kalimat “Gitu aja kok repot”, yang justru pada akhirnya menjadi trade mark beliau.
Sebagai tokoh nasional yang pernah terjun ke dunia politik, pastilah ada yang pro dan kontra terhadap kebijakan, pikiran, pendapat dan tindakan beliau. Tapi semoga saja, apapun yang menyangkut tentang sepak terjang Gus Dur selama ini tidak membuat kita menutup mata bahwa beliau adalah salah satu tokoh besar di negeri ini.
Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur akhirnya harus berpulang ke Rahmatullah. Selamat jalan, Gus Dur … semoga diampuni segala dosanya, diterima segala amal ibadahnya dan mendapat tempat mulia di sisi-Nya. Amiin